pahlawan

pahlawan
pahlawan

Senin, 30 Mei 2016

jendral sudirman


Jenderal Besar TNI Anumerta Soedirman (Ejaan Soewandi: Sudirman) (lahir di Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916 – meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia dicatat sebagai Panglima dan Jenderal RI yang pertama dan termuda. Saat usia Soedirman 31 tahun ia telah menjadi seorang
jenderal. Meski menderita sakit tuberkulosis paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya dalam perang pembelaan kemerdekaan RI. Pada tahun 1950 ia wafat karena penyakit tuberkulosis tersebut dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.

Latar belakang keluarga

Soedirman dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya, Siyem, adalan keturunan Wedana Rembang. Soedirman sejak umur 8 bulan diangkat sebagai anak oleh R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten Wedana Rembang yang masih merupakan saudara dari Siyem.

Pendidikan

Soedirman memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Surakarta tapi tidak sampai tamat. Soedirman saat itu juga giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap.

Karir militer

Ketika jaman pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor di bawah pelatihan tentara Jepang.[1] Setelah menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi Komandan Batalyon di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian ia menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TKR).

Soedirman dikenal oleh orang-orang di sekitarnya dengan pribadinya yang teguh pada prinsip dan keyakinan, dimana ia selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri. Pribadinya tersebut ditulis dalam sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal pribadinya semasa gerilya, sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.

Pada masa pendudukan Jepang ini, Soedirman pernah menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Karesidenan Banyumas. Dalam saat ini ia mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.

Paska kemerdekaan Indonesia

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu dan Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Soedirman mendapat prestasi pertamanya sebagai tentara setelah keberhasilannya merebut senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Banyumas, Jawa Tengah. Soedirman mengorganisir batalyon PETA-nya menjadi sebuah resimen yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang Republik Indonesia yang selanjutnya berperan besar dalam perang Revolusi Nasional Indonesia.

Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Selanjutnya dia mulai menderita penyakit tuberkulosis, walaupun begitu selanjutnya dia tetap terjun langsung dalam beberapa kampanye perang gerilya melawan pasukan NICA Belanda.

Peran dalam Revolusi Nasional Indonesia

Menangnya Pasukan Sekutu atas Jepang dalam Perang Dunia II membawa pasukan Belanda untuk datang kembali ke kepulauan Hindia Belanda (Republik Indonesia sekarang), bekas jajahan mereka yang telah menyatakan untuk merdeka. Setelah menyerahnya pasukan Jepang, Pasukan Sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang. Ternyata pasukan sekutu datang bersama dengan tentara NICA dari Belanda yang hendak mengambil kembali Indonesia sebagai koloninya. Mengetahui hal tersebut, TKR pun terlibat dalam banyak pertempuran dengan tentara sekutu.

Perang besar pertama yang dipimpin Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945. [3] Pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember 1945, Soedirman melancarkan serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris di Ambarawa. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari tersebut diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir tanggal 16 Desember 1945.

Setelah kemenangan Soedirman dalam Palagan Ambarawa, pada tanggal 18 Desember 1945 dia dilantik sebagai Jenderal oleh Presiden Soekarno. Soedirman memperoleh pangkat Jenderal tersebut tidak melalui sistem Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya, tapi karena prestasinya.

Peran dalam Agresi Militer II Belanda

Saat terjadinya Agresi Militer II Belanda, Ibukota Republik Indonesia dipindahkan di Yogyakarta, karena Jakarta sudah diduduki oleh tentara Belanda. Soedirman memimpin pasukannya untuk membela Yogyakarta dari serangan Belanda II tanggal 19 Desember 1948 tersebut. Dalam perlawanan tersebut, Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Walaupun begitu dia ikut terjun ke medan perang bersama pasukannya dalam keadaan ditandu, memimpin para tentaranya untuk tetap melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda secara gerilya.

Penyakit yang diderita Soedirman saat berada di Yogyakarta semakin parah. Paru-parunya yang berfungsi hanya tinggal satu karena penyakitnya. Yogyakarta pun kemudian dikuasai Belanda, walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia setelah Serangan Umum 1 Maret 1949. Saat itu, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting tersebut, Soedirman dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang gerilya. Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain, dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah dan dalam kondisi hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Walaupun masih ingin memimpin perlawanan tersebut, akhirnya Soedirman pulang dari kampanye gerilya tersebut karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angkatan Perang secara langsung. Setelah itu Soedirman hanya menjadi tokoh perencana di balik layar dalam kampanye gerilya melawan Belanda.

Setelah Belanda menyerahkan kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag, Jenderal Soedirman kembali ke Jakarta bersama Presiden Soekarno, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Kematian

Pada tangal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. Pada tahun 1997 dia mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI sampai sekarang.

Sabtu, 23 Januari 2016

tugas komentar

                             MARCHING BAND GITA CITRA KHARISMA

Assalamu’alaikum gan, ane buat artikel pertama nih, ane disini mau nyeritain dikit soal ekstrakulikuler yang ane suka dan katanya cukup populer dan ngetop di SMA ane, ekstrakulikuler ini berhubungan dengan musik dan pelatihan baris-berbaris, ekstrakulikulernya yaitu Marching Band. Disekolah ekskul Marching Band yang bernama GITA CITRA KHARISMA(GCK) cukup banyak memberi prestasi bagi sekolah.
Organisasi Marching Band Gita Citra Kharisma merupakan sebuah ekstrakulikuler marching band yang ada di SMAN 13 GARUT yang sudah ada sejak awal tahun 2010. Organisasi ini bertujuan untuk menampung kreatifitas siswa dalam menyalurkan hobi dan bakat seninya dalam bidang musik.
Agan agan, Nih ya pada awal ane masuk Sekolah Menengah Atas Negeri 13 Garut, jujur ane kurang tertarik mengikuti ekstrakulikuler, tapi pas ane liat ekskul Marching Band bikin ane mikir kalo ekskul ini cukup menangtang dan ane suka musik siapa tau bisa di asah kan di ekskul ini, iya ga agan? coba aja bayangin sama ente kalo ente jadi anak paskibra atau pramuka terus ente PBBAB sambil mainin alat musik, coba bayangin brooo and sist susahnya !!, terus gan kita disini bisa belajar berorganisasi juga soalnya di ekskul ini bukan Cuma mainin alat musik aja tapi ada susunan organigramnya juga mulai dari ketua,wakil ketua,sekertaris,bendahara,dan seksi lainnya. So jangan remehin ekskul ini ya gan J.
Pas ane masuk ekskul ini, ane milih alat bass drum nomer 1 soalnya ane kalo ngeband suka mainin bass dan ane suka suara yang ngebass haha, ada beberapa alat dan posisi yang bisa di isi oleh para pemain, yaitu   :
# PIT
1. Field Commander(FC)/Gitapatih
Posisi ini bertugas untuk mengatur tempo lagu yang dimainkan para pemain, sehingga FC adalah pusat perhatian para pemain alat.
2. Mayoret
Mayoret adalah orang yang selalu membawa tongkat untuk mengatur gerakan para pemain Horn(alat tiup) dan Percussion dalam display, display adalah suatu formasi dalam Marching Band.
3. Color Guard(CG)
CG adalah para penghias display, mereka menghiasinya dengan tarian-tarian mereka dan bendera atau apa saja sebagai aksesorisnya.

            # PERCUSSION(alat pukul)
1.    Snare
Snare adalah alat perkusi yang suaranya paling keras, oleh karena itu bila ada satu orang yang memakai snare salah pukulan pasti terdengar. Jenis pukulannya cukup banyak mulai dari aksen,roll,dan lainnya. Ada yang sedikit agak mirip dengan snare yaitu tenor.
2.     Bass Drum
Bass drum ada yang 5 nomer dan 4 nomer, yang ada di sekolah ane yang 4 nomer, para pemain bassdrum harus saling mengerti satu sama lain karena bila salah satu salah pasti semua salah, pemain bassdrum bisa dibilang satu hati haha.
3.    Tom
Nah pemain alat satu ini bisa disebut serakah karena lahan pukulnya yang banyak, tom bisa sampai 6 lahan pukul dan minimal 3.
4.    Symbal
Alat ini adalah alat yang memang sepele dilihat tapi bila alat ini tidak ada bisa di ibaratkan sayur tanpa garam, rasanya hambar.
5.    Bell
Terakhir bell, memang bell itu memainkan melodi,grip,improv tapi bell menggunakan mallet untuk memukulnya, biasanya alat ini berada paling depan dan tidak mengikuti display. Alat yang hampir sama adalah marimba.

# HORN(alat tiup)
1.    Pianika
Alat pianika adalah satu-satunya alat tiup yang ada di sekolah ane, mengapa tidak memakai terompet? Karena harganya yang tinggi bisa sampe jutaan haha. Pianika adalah alat yang sangat di tonjolkan saat display.

            Awalnya sih ane kan bassdrum nomer 1 tapi gara-gara ane jarang latihan waktu kelas X karena disababkan oleh rasa malas yang menjadi-jadi pas ane latihan lagi ternyata basssdrum yang biasa ane pake eh dipake orang, disitu ane bingung harus ngapain dan kakak kelas yang waktu itu menjabat sebagai ketua pada saat ane masih jadi junior ngasih saran ke ane kalo ane harus pindah alat ke alat bell, ane awalnya ga mau tuh pindah alat karena ane ga bisa mainin bell, tapi kalo dipikir-pikir kan rugi juga kalo ane ga ikut Festival Ciamis Open Marching Band (COMB), festival COMB itu festival se-profinsi Jawa Barat, siapa yang gamau sih ngewakilin sekolahnya di tingkat Provinsi?, dari situ ane mulai terus asah kemampuan ane mainin alat bell. Setelah beberapa bulan berlatih dan akhirnya bisa dan ane pergi ke ciamis pada tanggal 15 februari 2015, dan alhamdulillah GCK masuk sepuluh besar peringkat ke-8, GCK bawa pulang 3 piala buat sekolah saat kita sesudah penampilan 12 menit di GOR GALUH, Ciamis.
GCK udah ikut COMB 2 kali, yang pertama peringkat ke-11, yang kedua peringkat ke-8. Nah tahun ini GCK mau berangkat lagi untuk ikut COMB yang ke 3 dengan tema sundaan, tolong do’anya ya gan biar kita dapet peringkat yang lebih baik lagi dan minta do’anya juga ya semoga GCK bisa dimudahin masalah dana dan bisa memperbaiki alat atau kalo bisa ganti sama yang baru :D. Makasih ya yang udah baca artikel ane, tolong comment ya gan J.